Kamis, 25 Maret 2010

JUJUR TELAH WAFAT

Tanyakan pada dunia
Seberapa lebar jujur telah terpahat di lidah manusia
Kelakuan yang murni atas kebenaran rasa
Hingga bilik hati yang menidurkan jujur diatas singgasana
Riaklah gelombang resah
Agar kita peduli
Mungkin jujur telah mati
Ya….. terpikirkah…?
Kemana si jujur merengek dalam kepicikan
Atau acuh karena ketidakmampuan
Sebab ia telah bungkam
Akibat rengsekan egois yang menekan
Mengekang….
Kau lihat di sudut sana…
Anak-anak bersilat lidah
Bohongi orang tuanya
Berkilah agar kecup permen yang manis rasanya
Manis dilidah pahit dihati
Karena terkotori oleh kebohongannya
Lihat… jujur telah mati disana..
Lihat disudut sana..
Pedagang merubah takarannya
System riba ditegakkannya
Lidahnya keluh, dipaksa berbohong kepada siapa saja
Lihat…jujur telah tiada disana
Lihat disudut sana…
Santri mencubit secuil tepung dari tempe temannya
Tanpa rasa berdosa
Bahkan masih berkilah
“ah.. sekecil ini masilah halalan lagi toyyibah”
Lihat…jujur telah inna lillah…
Lihat disudut sana..
Pak berdasi
Menimbun harta anak yatim, kaum jompo dan si puntung kaki
Hingga perutnya kembung, jalannya mulai lunglai
Tapi masilah sempat ludahi mikrofon
“mensejahterahkan.. adalah sumpahku pada tuhan..!!”
Lihat.. jujur telah termutilasi disana..
Sekarang… beritahu hati kita
Disudut mana jujur masih melihat?
Dicelah mana jujur masih tegak ?
Ataukah telah kita timbun ia didalam liang lahat?



BY: Rock Came

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Followers